BANJARANYAR- Setiap hari, sehabis sholat subuh sebut saja Ibu Sunarti ( nama samaran ) pergi ke pasar Sokaraja untuk keperluan menjual dagangannya, yaitu hasil bumi yang ada disekitarnya.Dan pulangnya membawa barang dagangan yang ada di pasar Sokaraja untuk dijual di rumahnya. Begitu juga Nini SAR ( panggilan akrabnya ), ia juga membawa barang-barang yang ada di sekitar tempat tinggalnya untuk di bawa ke pasar Sokaraja, antara lain godong kompetan ( daun pisang ), atau bahkan kadang membawa sapu lidi, sapu ijuk hasil karyanya sendiri. Itu segelintir orang sebagai contoh yang bekerja keras untuk mencari sesuap nasi. Masih banyak orang kampung yang bekerja seperti di atas di kampung kami.
Sementara yang lain membanting tulang di sawah, ladang. Kebanyakan dari mereka menyirami tanaman yang ia tanami, sebut saja bibit …..
ALBASIA. Pekerjaan menyiramipun mereka kerjakan uput-uput bener ( pagi-pagi buta dan masih banyak embun ). Pekerjaan ini selesai sampai siang hari dan dilanjutkan sore harinya. Sebagian lagi mencari rumput, bahkan untuk keperluan peternakannya mereka sampai ke ladang/sawah tetangga desa.
Para perangkat desa setiap hari bekerja nonstop 24 jam untuk melayani masyarakat. Pak Kades kemana-mana membawa stempel, dokumen proyek, proposal, materai dan lain-lain. Faskel sering memotivasi dan membantu membantu BKM Mitra Sejahtera. Para pejabat kabupaten atau kecamatan secara rutin TURBA ( turun ke bawah ) ke desa dengan berbagai tujuan : melakukan sosialisasi, mencari data, mengirim surat-surat, menyalurkan bantuan, melaksanakan proyek, melakukan penyuluhan, menghadiri kegiatan seremonial di desa. Bupati …..
sibuk dan anjangsana memberikan sambutan dalam berbagai kegiatan seremonial di desa. Muspika hampir tiap malam melakukan patroli ke desa untuk melakukan kontrol terhadap situasi keamanan, termasuk mencermati selembar daun yang jatuh dari pohon. Para kyai lokal sibuk ceramah pengajian di masjid, rumah-rumah penduduk, mengajak orang desa untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Para mahasiswa dan dosen aktif melakukan “ wisata pembangunan desa” untuk keperluan pengabdian, pendampingan atau advokasi. Aktivitas orang-orang desa terus berjalan, perhatian” orang luar “ terhadap desa terus mengalir, program pembangunan desa dari pemerintah tidak pernah putus, dan bantuan keuangan tetap menetes ke desa. Di atas kertas, semua bentuk pengaturan, kebijakan maupun program pembangunan desa mengedepankan sederet tujuan mulia : membuat pemerintahan desa lebih modern, mengubah fisik desa, memberikan layanan sosial kepada masyarakat desa, mengentaskan kemiskinan, memberdayakan masyarakat, meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat, membangun ketahanan sosial desa, dan lain-lain. Namun di balik “ Cerita Sukses” yang kita rasakan selama ini, PROBLEM KEMISKINAN SELALU MENGHANTUI DESA, pengangguran semakin meningkat, gagal panen sering kita alami karena kekeringan atau karena serangan hama. Para petani selalu menjerit, ketimpangan desa dan kota semakin lebar dan lain sebagainya.
Mengapa kerja keras orang desa, perhatian “ orang luar”, pengaturan, kebijakan dan proyek tetap mengalir tetapi belum membawa perubahan sosial yang lebih baik. Barang kali kerja keras orang desa terjebak dalam rutinitas, tanpa sentuhan PEMBAHARUAN YANG MEMADAI. Sebagian perangkat desa tampak “ menjalankan tugas” apa adanya sesuai dengan peraturan pemerintah atau tradisi mereka. Atau mungkin proyek-proyek tersebut belum mengambil / mengikutsertakan kebijakan lokal. Sebut saja pembuatan sumur bor di 2 ( dua ) lokasi di Banjaranyar. Ternyata sampai saat ini belum bisa dimanfaatkan, padahal uang yang dikeluarkan untuk proyek ini cukup besar. Segenap petani di desa kami sudah menunggu mata air di dua tempat tersebut akan memberi manfaat yang luar biasa, tapi yang keluar bukannya mata air tapi air mata. Sebab kalau kekeringan di desa kami, maka yang terjadi rebutan air yang kadang-kadang membuat percecokan dan adu mulut diantara petani. Yang tidak berani cecok ya…. hanya mengeluarkan air mata saja ….…menunggu padi kuning sebelum waktunya…… Sedangkan kebijakan-kebijakan tentang proyek yang ada masih bersifat top down, dan setralistis. Contoh pematokan anggaran dana bantuan yang lewat BKM dibagi sebagai berikut : 70 % untuk lingkungan, ekonomi 20 % dan 10 % sosial. Memang pematokan anggaran semacam ini memudahkan pertanggungjawaban pihak pemberi bantuan. Akan tetapi kurang membumi terhadap kebutuhan yang realitas di masyarakat desa. Harapan kami dengan adanya BUPATI yang baru, bantuan peternakan di desa kami sangat kami nantikan, karena peternak di desa kami walaupun banyak hewan sapinya, tapi mereka kebanyakan hanya sebagai buruh saja. Bantuan pengadaan sumber air dan saluran air juga sangat kami tunggu-tunggu, karena bagi petani air adalah segalanya. Smoga bantuan – bantuan tersebut tetap mengalir ke desa kami sehingga PROBLEM KEMISKINAN YANG SELALU MENGHANTUI DESA, akan lenyap. ( Mn ).
Filed under: BKM